Pelantikan dan Pengukuhan Dewan Pimpinan Pusat Anak Muda Kepulauan Evav (AMKEI) Indonesia Periode 2024-2029, Menpora: Anak Kei Harus Jadi Pionir

Berita306 Views

Lagu-lagu Kepulauan Kei (Evav), Maluku Tenggara mengalun lembut di Auditorium B.J. Habibie Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada Minggu (28/1/2024). Lirik-lirik yang memikat hati, diiringi bunyi tifa, gong, dan suling membuat warga Kei yang hadir dalam gedung itu sejenak tenggelam dalam rindu pada kampung halaman.

Sebuah layar monitor besar menghadirkan pemandangan alam eksotik khas Bumi Larvul Ngabal, mulai dari Pantai Pasir Panjang (Ngur Bloat), Pantai Ohoidertawun, Pulau Bair, pengolahan enbal, tari-tarian dan pelbagai kekerabatan masyarakat Kei.

Itu semua bagian dari seremonial Pelantikan dan Pengukuhan Anak Muda Kepulauan Evav (AMKEI) Indonesia Periode 2024-2029, pada Minggu (28/1/2024). Amkei merupakan organisasi masyarakat (ormas) pertama anak muda Kei yang berdiri di Jabodetabek, dengan pendiri John Refra.

Turut hadir dalam acara pelantikan ini Menteri Pemuda dan Olahraga Ariobimo Nandito Ariotedjo, Wakil Menteri Agama, Penjabat Bupati Maluku Tenggara, Penjabat Walikota Tual, Uskup Amboina Mgr Seno Ngutra dan tokoh agama lainnya, serta para tokoh adat Kei yang dan para ketua ormas lainnya, seperti Ketua Front Muslim Maluku Umar Ohoitenan. Juga hadir para pimpinan wilayah Amkei Papua, Sulawesi, dan Pulau Jawa.

Dibuka dengan lagu Indonesia Raya, para hadirin bernyanyi lantang, dipandu dirigen Hendrika Ngoranubun. Pembawa acara kemudian mengajak seluruh hadirin mengenangkan kampung halaman Kei tercinta lewat lagu “Tanat Sus Beb” yang dinyanyikan secara duet oleh Angelo Renyaan dan Beatrix Ubra. “Ning Nuhu Tanat Sus Beb Owe, Tanat Lair Vatnim O, Nanan Be Wakbo Ya’an Duil, Ti Liik Nung Nuhu”

Nyanyi bersama itu sangat mengharukan hati, ada air mata yang berlinang menetes karena terharu dan rindu.

Dalam pidato Ketua Umum Amkei John Refra yang dibacakan oleh Ketua Harian Amkei Abu Bakar Refra, SH, mengatakan, Amkei sedang memasuki sebuah paradigma baru yakni pembaharuan dan transformasi. Ada arah gerakan perubahan paradigma Amkei yang peduli pada keunggulan teknologi. Dengan filsafat Vuut ain mehe ngifun, manut ain mehe tilur, semua orang Kei berasal dari satu keturunan, Amkei ada untuk Indonesia Maju. Karena itu Amkei mulai fokus pada pendidikan. Tak lama lagi akan berdiri dan diresmikan rumah mahasiswa Kei di Jakarta.

Amkei berdiri sebagai respons atas situasi anak-anak muda Kei akibat kerusuhan Ambon. John Refra peduli pada mereka dan ikut mencari pekerjaan untuk menyambung hidup mereka. “Kei itu kecintaan kita semua. Karena kita Kei, maka kita satu,” tulis John.

Seluruh nama anggota DPP Amkei yang hendak dilantik, tampil di atas podium, kemudian mereka dilantik Menteri Pemuda dan Olahraga. Ketua Umum Amkei Periode 2024-2029 dijabat kembali oleh John Refra, dengan Ketua Harian Amkei Abu Bakar Refra, SH, dan Sekretaris Jenderal M. Tuhri Leisubun, SH. Sebagai Ormas, Amkei memiliki sejumlah ketua bidang guna memperkuat organisasi.

Sebagai anak adat, mereka juga dikukuhkan dengan adat oleh Raja Danar Abdul Gani Hanubun.

Dalam sambutannya, Menpora Ariobimo Nandito Ariotedjo, mengatakan, setelah pelantikan ormas Amkei akan menjadi rumah bersama warga Kepulauan Kei di Jabodetabek dan wilayah lainnya. Pemerintah sangat mendukung visi transformasi Amkei ke depan, untuk lebih baik, sejalan dengan visi Indonesia Maju. “Amkei harus tampil menjadi pionir bagi anak muda Kei di tengah masyarakat,” tutur Menpora. Dia juga berharap pada peran para pemuda Kei dalam ikut menciptakan situasi kondusif pada negara yang akan memasuki Pemilu 2024.

Uskup Amboina Mgr Seno Ngutra berharap Amkei akan menjadi ormas yang ikut membesarkan nama masyarakat Kei dengan prestasi-prestasi yang jauh lebih baik lagi. Sebagai putra Kei pertama yang menjadi Uskup Amboina, Mgr Seno Ngutra mengatakan dirinya ikut mendoakan generasi muda Kei supaya berkontribusi pada bangsa dan negara.

Penjabat Bupati Maluku Tenggara, Jasmono, merasa kagum dan apresiasi pada budaya masyarakat Kei, yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai masyarakat adat, tiap individu orang Kei diajarkan nilai-nilai adat dan perilaku sehari-hari sebagai ekspresinya. Bupati mengatakan, alam Kei yang sangat indah dan eksotik, memiliki objek wisata yang mengagumkan. Karena itu Malra sedang fokus membangun sumber daya manusia untuk melanjutkan pembangunan di daerah ini.

Sementara Wakil Menteri Agama juga mengapresiasi acara pelantikan ini dan optimis Amkei akan berkontribusi pada kemajuan masyarakat Indonesia. Dia mengatakan, jauh sebelum Indonesia berdiri, moderasi beragama sudah ada dalam praktek hidup masyarakat di Nusantara. Karena itu, Wakil Menteri Agama mengajak masyarakat Kei dan Amkei ikut memajukan moderasi beragama di dalam masyarakat.

Panglima Amkei Indonesia, Hamid Rahakbauw, mengatakan, pada dasarnya pelantikan dan pengukuhan DPP Amkei ini memiliki arti penting bagi masyarakat Indonesia, karena Amkei bertekad berkontribusi untuk masyarakat. Karena itu Panglima sangat mengapresiasi kehadiran Menpora dan Wakil Menteri Agama dalam acara ini.

Wakil Panglima Amkei Indonesia, Benja Kei, mengatakan, sebelumnya, masyarakat mengidentikkan Amkei itu dengan kekerasan. Namun, sejak hari ini, wajah Amkei Indonesia mengalami transformasi, perubahan, yang akan berdampak sebagai sebuah pelajaran bagi masyarakat luas. Amkei hadir di tengah masyarakat Indonesia untuk memberi dampak positif, karena itu dalam struktur Amkei terlihat pelbagai bidang yang menjadi tugas Amkei pada masyarakat.

“Amkei memiliki bidang hukum yang bisa membantu masyarakat yang membutuhkan bantuan hukum. Amkei juga memiliki bidang perlindungan perempuan, sehingga bisa membantu menangani perkara terkait kekerasan terhadap perempuan dan anak . Amkei sendiri memiliki badan hukum yang bisa membantu masyarakat, misalnya terkait masalah mafia tanah. Fenomena mafia tanah di Tanah Air saat ini cukup marak. Amkei peduli dengan persoalan itu. Nah, dalam pendekatan di lapangan, Amkei akan lebih humanis, dari hati ke hati, karena pada dasarnya semua orang itu baik,” tutur Benja Kei.

Selain lagu, Tari Cakalele juga dipentaskan oleh para mahasiswa Kei yang kuliah di Jakarta (Kamkei). Selain itu dihadirkan juga Tari Samra dari komunitas Banda Eli, sebuah subetnis yang ada di Kei. Dalam acara seperti ini tak bisa dilepaskan dari “acara goyang anak Maluku”. Begitu intro lagu berdentum, tua-muda, laki-perempuan segera memadati depan podium dan mulai melakukan tari bersama dengan gerakan-gerakan khas Maluku dan Indonesia Timur. Suara penyanyi Ibu Kota asal Kei, Cathy Rahakbauw, Angelo Renyaan, dan Beatrix membawa warga Kei di Jakarta tenggelam dalam dendang bersama, dengan gerakan-gerakan goyang kaki dan badan seraya membentuk sebuah tarian kolosal dalam kebersamaan dan semangat “Ain ni Ain”. Kalau saja tak dibatasi waktu, acara goyang badan itu tak bisa berhenti.

Penyanyi senior berdarah Kei, Anna Rettob, mengapresiasi kegiatan pelantikan dan pengukuhan DPP Amkei. Dia bangga melihat Maluku Tenggara memiliki budaya persaudaraan yang sangat kuat. “Lagu-lagu dan budaya Kei sungguh menghibur hati saya. Saya sadar anak-anak Kei itu memiliki potensi besar, karena kita adalah masyarakat adat yang menjunjung nilai-nilai adat,” tutur pemilik album rohani Kei terbaik itu. *(Rika)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *